(dilema) Wanita Bekerja

Pada jaman sekarang ini, banyak sekali wanita yang bekerja, jadi bukan hal yang aneh jika para wanita sibuk di luaran. Wanita bekerja tidak hanya pada bidang pekerjaan yang “feminim”, banyak wanita yang bekerja di bidang yang biasanya dikerjakan oleh laki-laki. Ketika wanita belum berkeluarga, hal ini tampak biasa saja, namun ketika sang wanita berkeluarga dan memiliki anak, hal ini akan menjadi sebuah dilema : tetap bekerja atau di rumah saja.

Terlepas dari perdebatan antara ibu yang memilih bekerja dan ibu yang memilih tidak bekerja, saya memiliki pendapat sendiri tentang hal ini (saya tidak memaksa orang lain untuk setuju dengan apa yang akan saya ungkapkan, toh hal ini hanya pendapat saya pribadi dan hanya berlaku untuk saya sendiri). Kedua pilihan wanita tersebut baik, tinggal disesuaikan dengan situasi dan kondisi wanita tersebut. Jadi, tidak semua wanita yang memilih bekerja dan memilih tidak bekerja bisa dinilai secara ‘general’, disamaratakan.

Bagi saya, keluarga adalah yang terpenting, artinya apa pun akan saya lakukan untuk kebaikan keluarga saya, dan saya pun memilih bekerja dengan pertimbangan untuk keluarga saya. jika ada yang bertanya “apakah kamu tidak ingin menjadi ibu rumah tangga?” Saya akan berkata bahwa saya pun ibu rumah tangga, karena saya masih melakukan hal-hal yang dilakukan oleh ibu rumah tangga, seperti mencuci, memasak, memandikan anak-anak, dll, hanya saja say pun bekerja untuk membantu suami saya dalam memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga kami. Jika yang dimaksud dengan pertanyaan tersebut adalah terkait keberadaan saya dengan anak-anak, tentu saja saya ingin sekali berada di rumah bersama anak-anak, memeluk mereka, bermain bersama mereka, tapi situasi dan kondisi saya belum memungkinkan untuk 24 jam bersama mereka. Jika ada yang bertanya kepada saya “apakah kamu tega meninggalkan anak-anak?”, tentu saja saya akan berkata saya sangat tidak tega meninggalkan mereka, ketika mereka menangis saya pun ikut menangis dan menjerit di dalam hati saya, hati saya tidak ‘sakit’ sehingga tidak bisa merasakan kesedihan mereka. Bahkan, setibanya di kantor, saya butuh waktu beberapa menit untuk mengalihkan perhatian saya, untuk memberi ruang di ‘hati’ saya agar bisa segera mengerjakan tugas-tugas saya di kantor.

Selama ini, anak-anak saya diasuh oleh ibu saya, nenek mereka. Hal ini membuat hati saya sedikit tenang. Hal ini bukan berarti saya ‘memperkerjakan’ ibu saya, justru ibu saya yang menginginkan anak-anak saya di rumahnya. Beberapa kali saya coba agar ibu saya hanya mengawasi saja, akan ada orang yang akan mengasuh anak-anak, tapi ibu saya tetap bersikeras mengerjakan segala sesuatu nya seorang sendiri. Nah, selama sore hari sampai pagi hari, saya dan suami berkumpul lagi dengan anak-anak (kecuali hari libur kami berkumpul sepanjang waktu), waktu ini lah yang kami pergunakan dengan baik untuk membangun komunikasi untuk saling mengikat hati antara satu dengan yang lain. Semoga hati-hati kami tetap terikat. Mengenai pendapat beberapa hal, bahwa seorang wanita bekerja tidak dapat mendidik anak-anaknya dengan baik, saya tidak dapat berkata apa-apa, yang saya tahu saya berusaha untuk mendidik mereka dengan baik, dan berusaha menanmkan ilmu agama untuk bekal mereka. Saya memiliki banyak contoh, dimana seorang wanita bekerja bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, seorang wanita bekerja dapat mencetak anak-anak yang sholeh dan sholehah. Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami sholeh dan sholehah, aamiin.

Leave a Reply