‘Nikmat’ Sakit

Keadaan cuaca yang katanya ‘ekstrem’ di Indonesia, terutama di Bogor, membuat orang mudah sekali terserang penyakit, mulai dari yang ringan sampai yang agak berat.  Keluarga kecil kami pun tak luput dari ‘serangan’ ini. Diawali dengan Kayla, hari sabtu pagi dia masih riang seperti biasa, masih sempat aku keramasin rambutnya walau pun dia mengeluh kedinginan (mama jadi merasa bersalah, Kak), ternyata beranjak siang, badannya mulai panas, meski pun dia masih bermain seperti biasa, tetap cerewet dan berlari kesana kemari. Menjelang malam, suhu tubuh Kayla semakin tinggi, aku dan sumiku sangat khawatir. Tengah malam, Kayla terbangun, suhu tubuhnya semakin tinggi, walau pun diberi paracetamol tapi tetap suhu tubuhnya tidak turun-turun. Kayla tidak tertidur lagi, semalaman dia tidak bisa memejamkan matanya, otomatis aku sebagi ibunya tidak dapat memejamkan mata pula. Aku peluk Kayla, mencoba menenangkannya, memberinya semangat, mencoba menyampaikan padanya bahwa dia tidak sendiri. Esok paginya, kami periksa lagi suhu tubuhnya, tetap masih tinggi. Akhirnya kami putuskan untuk memijat Kayla ke tukang pijat anak dan ke dokter. Awalnya kami memanggil tukang pijat ke rumah siang hari, baru akan membawa Kayla ke dokter sore harinya. Setelah dipijat, ternyata suhu tubuh Kayla turun dan alhamdulillah tidak naik-naik lagi, rencana mengunjungi dokter kami cancel dulu, karena ingin melihat perkembangannya terlebih dahulu.

Ternyata suhu tubuh Kayla stabil sampai sore hari dan malam hari, akhirnya aku berpikir bisa tertidur lelap malam ini. Betul saja, Kayla sangat lelap, karena mungkin sangat mengantuk sekali dikarenakan malam sebelumnya tidak bisa tertidur. Berbeda denganku, aku masih juga tidak bisa tertidur, Mayra, adiknya Kayla, sangat rewel malam itu, sepertinya Mayra merasakan gatal pada gusi-gusinya, dikarenakan giginya yang akan tumbuh. Akhirnya, malam itu pun aku begadang kembali.

Esoknya Kayla dan Mayra sudah tenang, alau pun masih ada sisa-sisa rewel. Ternyata gantian, aku yang tidak terlelap dua malam akhirnya jatuh sakit juga. Hari senin aku tidak masuk karena merasakan kelelahan yang amat sangat, aku beristirahat di rumah ibuku. Hari selasa, aku pikir aku akan sembuh, ternyata semakin parah, sakit punggung yang mendera membuat aku sulit melakukan apa-apa dan malas sekali untuk berbicara, tapi aku malu kalau tidak masuk kerja lagi, akhirnya kupaksakan untuk masuk kerja. Sampai hari ini masih merasakan sakit punggung, hanya saja sudah agak ringan.

Ternyata betul apa yang dikatakan ‘ingat 5 perkara sebelum 5 perkara’, salah satunya adalah ‘sehat sebelum sakit’. di kala sehat, kita jarang menyaari bahwa sehat itu adalah anugrah yang sangat besar, kita baru merasakannya sesudah sakit. Betapa sakit itu membuat segala sesuatu itu menjadi tidak nyaman. Namun, yakinlah bahwa dengan sakit, kita masih diperhatikan oleh Allah SWT. Sakit yang anak-anak rasakan, mudah-mudahan menjadi berkah, menjadikan anak-anak tambah kuat, tambah pintar, dan tambah menghargai apa arti sehat, dan semoga semakin disayangi oleh Allah SWT. Sakit yang aku rasakan semoga menjadi peluntur dosa-dosaku, membuat aku menjadi lebih sabar dan lebih mendekatkan diri kepada Illahi Rabbi, amin

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.